Thursday, 21 July 2016
Tuesday, 3 May 2016
Kerancuan Doktrin Kenaikan Isa Almasih dalam Bibel
(Jawaban untuk Abd Al-Masih)
Hari Kenaikan Yesus Kristus (Kenaikan Isa
Almasih) yang diperingati setiap tahun sebagai hari libur nasional, sangat
bersejarah dan bermakna bagi umat Kristiani. Pada hari raya ini diyakini bahwa
jasad insani dan oknum ilahi Yesus yang sudah mati lalu hidup lagi, kemudian
naik ke sebelah kanan Tuhan di sorga. Maknanya, bahwa Yesus telah mengambil
bagian sepenuhnya dalam kemuliaan, kekuasaan dan pemerintahan Tuhan.
Untuk menunjukkan makna penting Hari Kenaikan
Yesus, Abd. al-Masih mengutip ayat-ayat Al-Quran untuk dijadikan sebagai alat
pembenaran terhadap doktrin tersebut. Dalam buku A Question that demands an Answer terbitan The Good Way, Rikon,
Switzerland, (edisi Indonesia: "Jawaban Yang Disingkapkan") ditulis
demikian:
Thursday, 28 April 2016
Buruh, Menurut Pandangan Islam
Pandangan Islam terhadap Masalah Perburuhan
Problematika perburuhan yang saat
ini menjadi pemandangan sehari-hari kita, tidak pernah ada dalam penataan
sistem Islam. Dalam Daulah Khilafah Islamiyah semua bibit sengketa buruh dan
pengusaha ditiadakan. Karenanya bisa dikatakan dengan menerapkan sistem Islam,
problem perburuhan sudah diaborsi sejak jauh hari sebelum lahir dan berkembang!
Wednesday, 27 April 2016
KISAH NABI ISA 'ALAIHI SALAM
A.
KELAHIRAN NABI ISA A.S
Muslim percaya pada konsep kesucian Maryam, yang telah diceritakan
sepanjang dalam beberapa
ayat dalam Al Qur’an. Menurut kisah di Al-Qur’an,
Maryam selalu beribadah dan telah dikunjungi oleh malaikat Jibril. Jibril
mengatakan kepada Maryam tentang akan diberikan calon anak yang bernama Isa,
Maryam sangat terkejut, karena ia telah bersumpah untuk menjaga kesuciannya
kepada Allah dan tetap mempertahankan hal itu dan bagaimana pula dia bisa hamil
tanpa seorang lelaki, lalu Jibril menenangkan Maryam dan mengatakan bahwa
perkara ini adalah perkara yang mudah bagi Allah, yang ingin membuat dia
sebagai tanda untuk manusia dan rahmat dari-Nya. Seperti halnya dalam konsep
penciptaan Adam tanpa ibu dan bapak.Tuesday, 26 April 2016
Menjawab Adzan Subuh, Ash-Sholatu Khairum Minan Naum
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.
Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan
para sahabatnya.
Bagi orang yang mendengar adzan disunnahkan menirukan suara
muadzin. Jika muadzin melantunkan Allahu Akbar – Allahu Akbar, orang yang
mendengarnya mengucapkan Allahu Akbar –Allahu Akbar. Dan begitu seterusnya
terhadap lantunan adzan. Kecuali pada hai’alatain (hayya ‘alash
Shalah dan Hayya ‘Alal Falah), maka ia menjawab Laa
Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah.
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
Sunday, 24 April 2016
WASIAT NABAWIYYAH UNTUK MUSLIMIN INDONESIA
Dalam tabligh akbar
tersebut Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri hafidzahullah mengajak kita untuk mendengarkan dan
memperhatikan wasiat-wasiat Allah yang ada di dalam kitab suci Al-Quran.
Saturday, 23 April 2016
Lafal Bacaan Ketika Berwudhu yang di Syariatkan
Hanya ada 2 bacaan yang
disyariatkan saat wudhu’.
Pertama, memulainya dengan membaca Basmalah. Ini berdasarkan hadits dari
Abu Hurairah Radhiyallahu
'Anh, bahwa
Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda,
لَا وُضُوءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اِسْمَ اَللَّهِ عَلَيْهِ
“Tidak ada wudlu seseorang yang tidak menyebut
nama Allah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
Membaca Basmalah adalah perkara
yang disyariatkan secara umum dalam mengawali aktifitas baik. Para ulama
berbeda pendapat tentang hukum membaca Basmalah di awal wadhu’. Jumhur
(mayoritas) ulama berpendapat hukumnya mustahab (sunnah). Sebagian lainnya
berpendapat wajib jika seseorang tahu hukumnya dan ingat keharusan membacanya.
Kedua, berzikir dan berdoa setelah selesai berwudhu.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ أَوْ فَيُسْبِغُ
الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا
شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، إِلا فُتِحَتْ
لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
"Tiada seorang pun di antara kamu yang berwudlu
dengan sempurna kemudian berdo'a: --- Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain
Allah Yang Esa tiada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu
hambaNya dan utusanNya -- kecuali dibukakan baginya delapan pintu syurga, dia
masuk dari pintu mana yang dikehendakinya.” (Muslim)
Dalam riwayat Tirmidzi dengan
tambahan (doa),
اَللَّهُمَّ اِجْعَلْنِي مِنْ اَلتَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ
اَلْمُتَطَهِّرِينَ
"Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang
yang bertaubat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu
mensucikan diri." (dishahihkan Syaikh Al-Albani di Shahih
al-Tirmidzi, Ibnul Qayim menyebutkannya di Zaadul Ma’ad)
Ada pula bacaan lainnya,
سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ
أنْتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وأتُوبُ إِلَيْكَ
“Maha suci Engkau, Ya Allah, dengan
memuji-Mu, aku bersaksi tiada tuhan hak kecuali Engkau, aku memohon ampunan dan
bertaubat kepada-Mu.” (HR. Al-Nasa’i di Yaum wa Al-Lailah dan Al-Hakim di
Mustadraknya, dari Abu Sa’id Al-Khudri)
Siapa membaca doa ini, disebutkan
dalam hadits di atas, maka akan ditulis di suatu kertas lalu diberi stempel dan
tidak akan rusak hingga hari kiamat.”
Inilah sejumlah riwayat yang
dinukil secara akurat dari Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam berkaitan
dengan bacaan wudhu.
Bacaan yang Tidak Disyariatkan
Adapun bacaan niat mengawali wudhu’
tidak ada dasar contohnya dari Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallamdan para sahabatnya.
Syaikhul Islam berkata, “niat
letaknya di hati, bukan di lisan, berdasarkan kesepakatan para ulama kaum
muslimin. Hal ini mencakup seluruh ibadah, seperti thaharah, shalat, zakat,
puasa, haji, pembebasan budak, jihad, dan lain sebagainya.” (Majmu’ah ar-Rasail
al-kubra: I/243)
Tidak disyaratkan mengeraskan niat
dan mengulang-ulanginya. Siapa yang membiasakan hal itu, ia harus diberi
pelajaran dan hukuman setelah memberitahukan kepadanya. Apalagi jika ia
terbebani dan terus-menerus mengulanginya. Orang yang mengeraskan niat adalah
orang yang berbuat keburukan. Jika ia meyakininya sebagai ajaran agama dan
beribadah kepada Allah dengan melafadzkannya, maka ia telah berbuat bid’ah.
Karena Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam dan
para sahabatnya tidak pernah mengucapkan niat secara mutlak dalam mengawali
ibadah. Jika perkara ini disyariatkan, pastilah Allah telah menjelaskannya
melalui lisan Rasul-Nya. Apalagi tidak ada kebutuhan melafadzkan niat karena
Allah telah mengetahuinya. (dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal:
I/148)
Begitu juga doa khusus pada setiap
anggota wudhu saat membasuhnya atau mengusapnya maka tidak bersumber dari
hadits shahih. Karena itu tidak boleh mengamalkannya. Seperti ucapan saat
berkumur-kumur, “Ya Allah, beirlah aku minum segelas dari telaga Nabi-Mu yang
aku tidak akan kehausan sesudahnya untuk selama-selamanya.
Ketika memasukkan air kehidungn,
“Ya Allah, jangan Engkau haramkan aku dari aroma nikmat-Mu da surga-Mu.”
Saat mencuci wajah, “Ya Allah,
jadikan wajahku putih berseri pada hari di mana wajah-wajah menghitam dan
suram.”
Saat membasuh kedua tangan, “Ya
Allah berikanlah buku catatan amalku dari arah kananku. Ya Allah, jangan
Berikan kitab amalku dari arah kiriku.”
Saat mengusap kepala, “Ya Allah,
haramkan rambutku dan kulitku dari neraka.”
Saat mengusap telinga, “Ya Allah,
jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengar perkataan lalu mengikuti
yang terbaiknya.”
Dan ketika mencuci kedua kaki, “Ya
Allah, kokohkan kakiku di atas shirath.”
Semua bacaan ini tidak memiliki
dasar dari Nabi Shallallahu
'Alaihi Wasallam yang
mulia.
Ibnul Qayim Rahimahullah berkata,”Tidak dinukil dari beliau
(Rasulillah Shallallahu
'Alaihi Wasallam) bahwa beliau membaca sesuatu ketika hendak wudhu’
kecuali membaca Basmalah. Semua zikir-zikir wudhu' yang diucapkan atasnya maka
itu dusta, diada-adakan dan tidak ada sesuatupun darinya yang diucapkan
Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wasallam.” (Zaadul Ma’ad: 1/195)
Kesimpulan
Hanya dua bacaan dalam wuhdu’.
Pertama, membaca Basmalah saat akan memulainya. Kedua, zikir atau doa sesudah
selesai wudhu’. Wallahu A’lam.













